breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Tanda Staf Humas Siap Melanjutkan Kuliah Jurusan S1 Ilmu Komunikasi
Kenali tanda staf humas siap kuliah jurusan S1 Ilmu Komunikasi, dari mengevaluasi respons audiens hingga memahami perencanaan pesan sambil bekerja.
Bekerja sebagai staf humas membuat seseorang terbiasa menyusun pesan untuk banyak jenis audiens.
Ada informasi yang perlu dibuat menjadi pengumuman.
Ada materi yang harus disesuaikan untuk media sosial.
Ada pertanyaan dari publik yang perlu ditanggapi.
Ada pula situasi ketika pesan yang menurut kita sudah cukup jelas ternyata diterima secara berbeda oleh audiens.
Semakin lama bekerja, biasanya semakin banyak pola yang mulai dikenali.
Kamu mulai mengetahui bahasa seperti apa yang terasa terlalu formal.
Kamu memahami bahwa pesan untuk internal organisasi belum tentu cocok digunakan untuk masyarakat umum.
Kamu juga mungkin sudah terbiasa memilih informasi mana yang perlu ditempatkan di bagian awal agar lebih mudah dipahami.
Namun, pada suatu titik, pertanyaanmu bisa berkembang.
Mengapa pesan tertentu mendapat respons yang baik?
Mengapa materi lain kurang menarik perhatian?
Mengapa audiens memahami sebuah pesan secara berbeda dari yang kita harapkan?
Bagaimana menentukan cara komunikasi yang sesuai sebelum sebuah pesan dipublikasikan?
Ketika pertanyaan seperti ini semakin sering muncul, kebutuhan belajarmu mungkin sudah bergerak lebih jauh.
Kamu tidak lagi hanya ingin mampu membuat materi komunikasi.
Kamu mulai ingin memahami bagaimana pesan direncanakan, disampaikan, diterima, dan dievaluasi.
Bagi staf humas, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa S1 Ilmu Komunikasi mulai relevan untuk dipertimbangkan.
Saat pekerjaan humas mulai menuntut pemahaman yang lebih dalam
Coba ingat satu materi komunikasi yang pernah kamu buat.
Mungkin informasi yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana.
Ada kegiatan.
Ada tanggal.
Ada tempat.
Ada ajakan.
Materi selesai dibuat dan kemudian dipublikasikan.
Namun, setelah tayang, respons audiens ternyata tidak seperti yang diperkirakan.
Ada yang masih menanyakan informasi yang sebenarnya sudah dicantumkan.
Ada bagian yang salah dipahami.
Atau justru materinya tidak banyak mendapat perhatian.
Pada awalnya, mungkin mudah menyimpulkan:
“Berarti desainnya kurang menarik.”
Padahal persoalannya bisa lebih luas.
Apakah pesannya cukup jelas?
Apakah informasi yang paling penting ditempatkan dengan tepat?
Apakah bahasa yang digunakan sesuai dengan audiens?
Apakah kanal yang dipilih memang tempat audiens menerima informasi?
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa pekerjaan komunikasi tidak berhenti pada membuat materi.
Ada proses perencanaan sebelum pesan dibuat.
Ada pula proses evaluasi setelah pesan diterima.
Ketika kamu mulai tertarik pada dua proses tersebut, kebutuhan belajar Ilmu Komunikasi mulai terasa semakin konkret.
Kamu mulai ingin tahu mengapa sebuah pesan berhasil
Salah satu tanda kesiapan yang cukup kuat adalah ketika kamu tidak hanya merasa senang karena sebuah konten berhasil.
Kamu mulai bertanya:
“Kenapa ini berhasil?”
Misalnya sebuah unggahan memperoleh respons lebih baik dibanding materi sebelumnya.
Apa yang berbeda?
Apakah topiknya lebih relevan?
Apakah pembukanya lebih kuat?
Apakah bahasanya lebih sederhana?
Apakah formatnya lebih sesuai dengan audiens?
Apakah waktu publikasinya berbeda?
Pertanyaan seperti ini membuat pengalaman kerja berubah menjadi bahan belajar.
Kamu tidak lagi hanya mengandalkan:
“Sepertinya audiens suka yang seperti ini.”
Kamu mulai mencoba memahami pola di balik respons mereka.
Dari sini muncul keinginan untuk merencanakan komunikasi berdasarkan alasan yang lebih jelas, bukan sekadar mengulang sesuatu karena sebelumnya pernah berhasil.
Kamu mulai mengevaluasi pesan yang kurang efektif
Hal yang sama berlaku ketika sebuah materi tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.
Daripada langsung menyimpulkan bahwa pesannya gagal, kamu mulai membedahnya.
Apa tujuan komunikasinya?
Siapa audiensnya?
Apa yang sebenarnya ingin mereka ketahui?
Apa pesan utama yang ingin disampaikan?
Apakah terdapat terlalu banyak informasi?
Apakah bahasanya sulit dipahami?
Apakah respons audiens menunjukkan adanya kebingungan?
Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa kamu mulai melihat komunikasi sebagai proses yang dapat dievaluasi.
Pesan bukan hanya dibuat lalu selesai.
Ada sesuatu yang dapat dipelajari setelah publik menerima pesan tersebut.
Kamu mulai bisa menjelaskan tujuan melanjutkan kuliah
Keinginan kuliah menjadi lebih kuat ketika alasanmu mulai spesifik.
Bukan hanya:
“Saya ingin punya gelar S1.”
Tetapi:
“Saya ingin mendalami perencanaan pesan dan evaluasi komunikasi sesuai audiens agar pekerjaan humas yang saya lakukan lebih terarah.”
Tujuan seperti ini mempunyai hubungan langsung dengan pekerjaan.
Coba lihat kembali aktivitasmu.
Apakah sering membuat materi komunikasi?
Menulis caption?
Membuat pengumuman?
Mengelola media sosial?
Berkomunikasi dengan publik?
Menanggapi komentar atau pertanyaan?
Mengkoordinasikan publikasi?
Kemudian tanyakan:
“Dari semua pekerjaan tersebut, kemampuan apa yang paling ingin saya pahami lebih dalam?”
Mungkin jawabannya adalah memahami audiens.
Menyusun strategi pesan.
Menentukan media.
Mengukur respons.
Atau memperkuat kemampuan menulis.
Semakin jelas jawabannya, semakin jelas pula alasanmu memilih S1 Ilmu Komunikasi.
Kamu mulai memperhatikan siapa yang menerima pesan
Salah satu perubahan penting dalam cara berpikir komunikasi adalah berhenti melihat semua audiens sebagai kelompok yang sama.
Pesan yang digunakan untuk mahasiswa mungkin berbeda dengan pesan untuk orang tua.
Materi untuk pelanggan belum tentu cocok untuk mitra bisnis.
Bahasa di media sosial juga dapat berbeda dengan komunikasi resmi organisasi.
Ketika mulai memperhatikan perbedaan tersebut, kamu bisa bertanya:
Siapa audiensnya?
Apa yang sudah mereka ketahui?
Apa yang belum mereka pahami?
Apa yang penting bagi mereka?
Bahasa seperti apa yang terasa dekat?
Kanal apa yang biasa mereka gunakan?
Pertanyaan tersebut membantu proses komunikasi menjadi lebih terarah.
Kamu tidak lagi hanya bertanya:
“Apa yang ingin organisasi sampaikan?”
Tetapi juga:
“Bagaimana audiens kemungkinan menerima pesan ini?”
Kamu mulai membedakan pesan utama dengan informasi pendukung
Dalam pekerjaan humas, sering ada banyak informasi yang ingin dimasukkan sekaligus.
Tanggal.
Lokasi.
Keunggulan.
Penjelasan.
Syarat.
Ajakan.
Kontak.
Semuanya dianggap penting.
Akibatnya, pesan dapat menjadi terlalu padat.
Salah satu perkembangan cara berpikir komunikasi adalah mulai mampu menentukan:
Apa satu pesan utama yang harus diingat audiens?
Informasi apa yang mendukung pesan tersebut?
Apa yang bisa disampaikan kemudian?
Latihan sederhana ini cukup berguna.
Ambil satu materi komunikasi yang pernah dibuat.
Coba jelaskan isi materinya hanya dalam satu kalimat.
Jika sulit, mungkin ada terlalu banyak pesan yang sedang bersaing.
Kebiasaan seperti ini membantu melatih perencanaan komunikasi yang lebih fokus.
Kamu mulai melihat respons audiens sebagai bahan evaluasi
Komentar, pertanyaan, pesan masuk, atau respons publik bukan hanya sesuatu yang harus dijawab.
Semua itu juga dapat memberikan informasi.
Misalnya banyak orang menanyakan hal yang sama.
Ada kemungkinan bagian tersebut belum cukup jelas dalam pesan awal.
Jika audiens terus salah memahami informasi tertentu, mungkin struktur atau bahasanya perlu diperbaiki.
Jika satu jenis materi terus mendapatkan respons positif, ada sesuatu yang layak dipelajari.
Kamu dapat mulai membuat catatan kecil.
Pesan: apa yang dipublikasikan?
Tujuan: apa yang ingin dicapai?
Respons: bagaimana audiens bereaksi?
Pelajaran: apa yang sebaiknya dipertahankan atau diperbaiki?
Kebiasaan tersebut membantu pengalaman kerja berubah menjadi proses evaluasi.
Kamu mulai tertarik pada alasan orang merespons secara berbeda
Satu pesan dapat diterima dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda.
Ada yang langsung memahami.
Ada yang perlu penjelasan tambahan.
Ada yang tertarik.
Ada pula yang tidak merasa pesan tersebut relevan.
Hal ini membuat komunikasi menarik sekaligus kompleks.
Kamu bisa mulai bertanya:
Mengapa audiens tertentu tertarik pada pesan ini?
Mengapa kelompok lain kurang merespons?
Apakah pengalaman mereka berbeda?
Apakah kebutuhan informasinya berbeda?
Apakah pilihan media memengaruhi respons?
Pertanyaan seperti ini membawa pembahasan menuju pemahaman audiens dan proses komunikasi yang lebih dalam.
Kamu mulai bersedia menerima kritik terhadap materi komunikasi
Membuat materi komunikasi sering terasa personal.
Kita memilih kata.
Menyusun struktur.
Mungkin ikut menentukan visual.
Kemudian seseorang mengatakan:
“Pesannya kurang jelas.”
“Bahasanya terlalu panjang.”
“Bagian utama tidak terlihat.”
Masukan seperti itu tidak selalu nyaman.
Namun, kesiapan belajar dapat terlihat ketika kamu mulai melihat kritik sebagai bahan evaluasi.
Bukan berarti seluruh masukan harus diterima tanpa dipikirkan.
Kamu dapat bertanya:
Mengapa orang tersebut menilai pesan kurang jelas?
Bagian mana yang menimbulkan masalah?
Apakah audiens lain juga menunjukkan respons serupa?
Apa yang dapat diperbaiki?
Sikap seperti ini penting dalam bidang komunikasi karena pesan akhirnya dibuat untuk diterima orang lain, bukan hanya untuk terasa benar bagi pembuatnya.
Kamu mulai menguji pesan sebelum dipublikasikan
Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat dikembangkan adalah meminta orang lain membaca materi sebelum tayang.
Tidak perlu selalu melalui proses yang rumit.
Berikan kepada satu atau dua orang.
Kemudian tanyakan:
Apa yang kamu pahami dari pesan ini?
Informasi apa yang paling menonjol?
Apakah ada bagian yang membingungkan?
Menurutmu, apa yang harus dilakukan setelah membaca?
Jawaban mereka dapat membantu melihat apakah pesan yang kita maksud memang diterima dengan cara yang sama.
Latihan kecil seperti ini menunjukkan bahwa kamu mulai melihat komunikasi dari sisi audiens.
Kamu bersedia kembali memperkuat kemampuan menulis dan presentasi
Data program menunjukkan bahwa kemampuan menulis, presentasi, literasi media, dan komunikasi interpersonal menjadi beberapa dasar yang perlu diperkuat.
Bagi staf humas, kemampuan tersebut sebenarnya sudah cukup dekat dengan pekerjaan.
Namun, kedekatan tidak berarti semuanya sudah dikuasai.
Kamu dapat mulai mengevaluasi.
Apakah tulisanmu cukup ringkas?
Apakah gagasan utama mudah ditemukan?
Apakah presentasi mempunyai struktur yang jelas?
Apakah mampu menjelaskan informasi kompleks dengan bahasa yang lebih sederhana?
Apakah cukup kritis ketika membaca informasi dari media?
Kesiapan belajar terlihat ketika kamu bersedia kembali memperkuat dasar, meskipun sudah sering menggunakannya dalam pekerjaan.
Kamu mulai melihat komunikasi sebagai strategi, bukan hanya publikasi
Dalam pekerjaan sehari-hari, humas sering terlihat melalui hasil akhirnya.
Posting.
Pengumuman.
Siaran pers.
Acara.
Materi publikasi.
Namun, sebelum semua itu dibuat, sebenarnya ada pertanyaan strategis.
Apa tujuannya?
Siapa audiensnya?
Perubahan apa yang diharapkan setelah pesan diterima?
Media apa yang sesuai?
Bagaimana mengetahui apakah komunikasi bekerja?
Ketika kamu mulai tertarik pada pertanyaan tersebut, perspektifmu mulai berkembang.
Kamu tidak hanya ingin membuat komunikasi.
Kamu ingin merencanakannya.
Kamu memahami hubungan S1 Ilmu Komunikasi dengan pekerjaanmu
Program S1 Ilmu Komunikasi Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur mempelajari penyampaian pesan, media, hubungan masyarakat, dan strategi komunikasi.
Bagi staf humas, bidang tersebut mempunyai hubungan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari.
Kamu sudah menyusun pesan.
Menggunakan media.
Berhubungan dengan audiens.
Dan mungkin sudah terlibat dalam berbagai aktivitas hubungan masyarakat.
Perkuliahan memberi ruang untuk memahami aktivitas tersebut dengan pendekatan yang lebih terstruktur.
Jika sedang mempertimbangkan program ini, kamu dapat mempelajari S1 Ilmu Komunikasi UNU Kaltim.
Saat membaca informasinya, hubungkan dengan pekerjaanmu.
Misalnya:
“Saya sudah sering membuat materi komunikasi, tetapi ingin memahami bagaimana menentukan pesan berdasarkan audiens.”
Atau:
“Saya ingin belajar mengevaluasi mengapa pesan tertentu berhasil dan pesan lain perlu diperbaiki.”
Hubungan seperti ini membuat keputusan pendidikan lebih konkret.
Kamu mulai membuat catatan refleksi setelah publikasi
Salah satu latihan sederhana adalah membuat evaluasi kecil setiap selesai mengerjakan materi komunikasi.
Misalnya:
Tujuan: apa yang ingin dicapai?
Audiens: siapa yang dituju?
Pesan utama: apa yang ingin diingat?
Respons: apa yang terjadi setelah publikasi?
Pelajaran: apa yang perlu dipertahankan atau diperbaiki?
Tidak perlu semua komunikasi dianalisis dengan panjang.
Pilih beberapa materi penting.
Lakukan secara konsisten.
Lama-kelamaan, kamu mulai mempunyai kumpulan pengalaman yang dapat dibandingkan.
Dari sana, pemahaman mengenai komunikasi berkembang melalui praktik sekaligus refleksi.
Kamu mulai menyiapkan cara kuliah sambil tetap bekerja
Setelah tujuan belajar semakin jelas, kesiapan berikutnya masuk ke persoalan waktu.
Data program mencantumkan kelas:
Senin: 16.30–18.30
Selasa: 16.30–18.30
Rabu: 16.30–18.30
Kamis: 16.30–18.30
Jumat: 16.30–18.30
Mulailah dengan melihat jam kerjamu.
Apakah pekerjaan selesai sebelum pukul 16.30?
Berapa lama perjalanan?
Apakah ada aktivitas humas yang sering berlangsung sore hari?
Seberapa sering pekerjaan harus dilanjutkan ketika ada acara atau publikasi penting?
Pertanyaan seperti ini membantu melihat jadwal secara realistis.
Selain kelas, tetap ada kebutuhan membaca, menulis, berdiskusi, dan mengerjakan tugas.
Karena itu, sisakan ruang belajar di luar jam perkuliahan.
Kamu mulai memahami pola Blended Learning dan Hybrid Learning
Data program mencantumkan metode Blended Learning dan Hybrid Learning.
Bagi pekerja, detail pelaksanaannya perlu dipahami agar perencanaan waktu lebih jelas.
Kamu dapat menanyakan:
bagaimana pertemuan langsung dilakukan;
bagaimana aktivitas daring berjalan;
apakah seluruh jadwal 16.30–18.30 membutuhkan kehadiran langsung;
serta bagaimana pola pembelajaran pada masing-masing mata kuliah.
Informasi seperti ini membantu menghubungkan rencana akademik dengan rutinitas pekerjaan.
Kamu mulai menyiapkan biaya pendidikan
Data program mencantumkan:
Biaya formulir: Rp100.000
Herregistrasi: Rp1.100.000
Sehingga total biaya awal sebesar Rp1.200.000.
Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp1.080.000 per bulan.
Di luar biaya tersebut, kamu dapat memasukkan kebutuhan pribadi lainnya.
Transportasi.
Internet.
Perangkat.
Buku.
Atau kebutuhan tugas dan pembelajaran lain.
Perencanaan biaya membantu keputusan kuliah bergerak dari keinginan menjadi sesuatu yang dapat dipersiapkan.
Empat pertanyaan untuk melihat kesiapanmu
Tidak ada skor tertentu yang menentukan seseorang pasti siap melanjutkan S1 Ilmu Komunikasi.
Namun, empat pertanyaan berikut dapat membantu:
- Apakah saya sudah mengetahui alasan ingin melanjutkan S1 Ilmu Komunikasi?
- Apakah saya mulai ingin memahami mengapa suatu pesan berhasil atau perlu diperbaiki?
- Apakah saya bersedia memperkuat menulis, presentasi, literasi media, dan menerima umpan balik?
- Apakah saya sudah mulai menyiapkan waktu, biaya, serta pola belajar sambil bekerja?
Tidak seluruh jawabannya harus sempurna.
Yang penting, pengalaman kerja sudah mulai menghasilkan kebutuhan belajar yang nyata.
Pengalaman humas dapat menjadi modal belajar
Ketika masuk kuliah, kamu tidak datang tanpa pengalaman.
Kamu sudah pernah menyusun pesan.
Pernah menerima komentar audiens.
Pernah menghadapi komunikasi yang salah dipahami.
Pernah melihat satu konten mendapat respons baik sementara konten lain biasa saja.
Mungkin juga pernah menghadapi situasi ketika komunikasi harus disusun dengan cepat.
Pengalaman tersebut memberikan konteks.
Saat mempelajari hubungan masyarakat, kamu sudah mempunyai pengalaman berhubungan dengan publik.
Ketika membahas media, kamu pernah menggunakannya.
Saat mempelajari strategi komunikasi, kamu dapat membandingkan konsep dengan pekerjaan nyata.
Pengalaman tidak menggantikan pendidikan.
Namun, pengalaman membuat pertanyaan yang dibawa ke ruang belajar menjadi jauh lebih konkret.
Langkah kesiapan berikutnya bersama UNU Kaltim
Bagi staf humas dan pekerja bidang komunikasi di Samarinda dan sekitarnya yang ingin memperdalam kemampuan perencanaan pesan sambil tetap bekerja, salah satu program yang dapat dipelajari adalah Kelas Karyawan UNU Kaltim melalui P2K S1 Ilmu Komunikasi.
Program Studi S1 Ilmu Komunikasi pada data program tercatat memiliki akreditasi Baik.
Institusi Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur juga tercatat berakreditasi Baik.
Lulusan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.).
Program menggunakan metode Blended Learning dan Hybrid Learning dengan jadwal:
Senin: 16.30–18.30
Selasa: 16.30–18.30
Rabu: 16.30–18.30
Kamis: 16.30–18.30
Jumat: 16.30–18.30
Untuk pembiayaan, biaya awal tercatat sebesar Rp1.200.000, terdiri dari formulir Rp100.000 dan herregistrasi Rp1.100.000.
Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp1.080.000 per bulan.
Kamu dapat mempelajari bidang studinya melalui halaman Program S1 Ilmu Komunikasi UNU Kaltim.
Informasi mengenai kampus dan program lainnya juga tersedia melalui website UNU Kaltim.
Sebelum mengambil langkah berikutnya, pilih satu materi komunikasi yang pernah kamu buat.
Kemudian tanyakan:
Siapa audiensnya?
Apa tujuan pesannya?
Apa yang audiens lakukan setelah menerima pesan tersebut?
Bagian mana yang berhasil?
Apa yang seharusnya diperbaiki?
Mengapa?
Jika pertanyaan terakhir membuatmu semakin penasaran, itu dapat menjadi salah satu tanda bahwa kebutuhan belajarmu sudah bergerak lebih dalam.
Kamu dapat mempelajari kembali S1 Ilmu Komunikasi Kelas Karyawan UNU Kaltim sambil membawa daftar tujuan dan kemampuan komunikasi yang ingin dikembangkan.
Tanda siap melanjutkan kuliah tidak berarti semua materi komunikasi yang kamu buat selama ini sudah efektif.
Bagi staf humas, kesiapan justru dapat terlihat ketika kamu mulai mempertanyakan hasil pekerjaan sendiri, ingin memahami audiens dengan lebih baik, terbuka terhadap evaluasi, dan mulai melihat komunikasi sebagai sesuatu yang perlu direncanakan serta dipelajari secara sistematis.
Pengalaman membuat pesan sudah menjadi titik awal.
S1 Ilmu Komunikasi dapat menjadi langkah berikutnya untuk memahami mengapa sebuah pesan dapat bekerja.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UNU KALTIM • Jl. Apt. Pranoto, Kel.Gunung Panjang, Kec. Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75242
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur. All rights reserved.
UNU KALTIM